Budaya Indonesia Vs Hallyu-Wave

Dewasa ini, dunia musik Indonesia sedang marak dengan kehadiran boyband maupun girlband. Tidak seperti kebanyakan grup musik lain yang masing-masing personil memiliki peranan sendiri, ada yang sebagai bassis, vokal, gitaris, maupun drummer. Boyband dan girlband ini memiliki 3-9 personil, yang semuanya berperan sebagai penyanyi dan melakukan gerakan yang sama dengan kostum seragam. Ini merupakan tren musik yang diadopsi dari Korea atau biasa disebut dengan K-pop. Tidak hanya itu, gaya penampilan anak muda Indonesia kini pun sudah mulai terpengaruh, sampai berpandangan “Korea Mainded” (pikiran serba Korea).

Mungkin inilah salah satu penyebab budaya Indonesia mulai luntur dan terkesan dilupakan. Sebagai contoh, orang lebih suka menyaksikan konser Korea dari pada wayang kulit. Orang juga lebih suka mempelajari budaya Korea dari pada budaya asli Indonesia, misalnya karawitan.

Pada dasarnya budaya Indonesia tak kalah dengan K-pop. Banyak kebudayaan Indonesia yang sangat diminati di luar negeri. Di Belanda, banyak orang yang mempelajari musik karawitan. Musik angklung sangat diminati di Argentina. Bahkan, jika kita ingin menempuh S-2 sastra jawa maka kita harus menempuhnya di Belanda. Tapi kenapa justru generasi muda kita tak tertarik dengan budayanya sendiri? Fenomena yang sungguh mengherankan. Ketika banyak negara yang melirik kebudayaan kita, justru generasi muda kita tak berusaha untuk melestarikannya.

Mungkin hal ini karena pengemasan budaya Indonesia yang kurang menarik. Alangkah lebih baik jika kita membuat suatu acara dimana budaya Indonesia dikemas secara menarik. Misalnya membuat audisi sinden muda, bukan audisi boyband dan girlband. Yang tak kalah penting adalah pemerintah juga harus memberi kontribusi aktif dalam mengenalkan budaya Indonesia pada generasi muda. Hal ini dapat dilakukan dengan mewajibkan setiap sekolah untuk memberi kurikulum kesenian sebagai mata pelajaran wajib yang sesuai dengan daerahnya. Misalnya di daerah Jawa Timur mempelajari tentang Reog Ponorogo dan Remo, daerah Bali mempelajari tari pendet, dan sebagainya. Sehingga secara tidak langsung guru telah membelajarkan budaya Indonesia pada generasi muda. Dengan begini budaya Indonesia tak akan hilang atau diklaim oleh negara lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: